sekarang tahun ini hal itu menjadi hal mustahil buat aku untuk bisa mengalaminya lagi, sejak beberapa tahun ini kami sudah mulai menghilangkan tradisi itu. terkadang mulut bisa berkata tidak masalah kita tidak berlebaran dikampung halaman, tapi hari sunggug berat dan rasanya berat. hidup harus terus berjalan dan harus dinikmati serta disyukuri karena hidup bukan untuk disesali dengan keadaan yang tidak seperti yang kita inginkan. aku mulai berpikir bahwa untuk mengembalikan lagi tradisi kita saat lebaran, ditempat yang dulu selalu kita berkumpul. kita adalah keluarga, dengan berkumpul walaupun hanya sehari itu sudah cukup buat aku untuk bisa membuat hidup ini lengkap. hidup aku terlalu banyak hal yang hilang, sekarang hal ini seperti mulai hilang tidak seperti biasa lagi. pedih hati aku saat melihat berita banyak orang yang bela-belain untuk pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga besar, seakan dihari itu ingin tidur dan bangun saat sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. karena hal yang biasa kita lakukan sepertinya tidak akan lagi bisa aku rasakan, semuanya terlalu berbeda.
Sunday, 19 June 2016
Idul Fitri yang tidak seperti biasa
idul fitri adalah saat dimana kami bisa berkumpul, aku, ibu, dan kedua kakak ku yang sedang bekerja diluar kota seperti biasa pulang ke rumah dan berkumpul untuk saling bermaafan. tapi sekarang hal itu sudah menjadi hal yang mungkin mustahil bisa dilakukan bahkan dialami lagi olehkku. kakak pertamaku sejak menikah dan punya keluarga baru mungkin sudah membagi perhatiannya untuk keluarga barunya, begitu juga kakak ku yang kedua. ditambah lagi permasalahan yang timbul didalam keluarga yang membuat kami semakin susah untuk berkumpul layaknya keluarga lain yang berkumpul dengan semua keluarga besarnya. dulu kita selalu berkumpul saat idul fitri, datang saat malam takbir kadang juga sehari sebelum lebaran. kita berkumpul, masak, ngobrol, berbagi angpau, banyak makanan, ada opor ayam sambel goreng kentang, ketupat, dan banyak lagi. pagi hari saat lebaran kita sholat id di mesjid besar dikampung kita, setelah itu datang kerumah dan saling berpangku tangan kemudian saling bermaafan. air mata seakan tak tertahan ketika kita saling memaafkan. dan kemudian kita jiarah kubur ke makam kakek dan berkungjung ketetangga dekat untuk saling silaturahmi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment